Feeds:
Tulisan
Komentar

Hello world!

Welcome to my blog….

Senang sekali kalau hari ini bisa memulai menulis di blog ini. Melalui blog ini saya ingin berbagai kisah dan cerita tentang kehidupan yang kita jalani. Seringkali kehidupan yang kita jalani tak semudah apa yang kita bayangkan….tetapi kita tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan ini dengan cara yang lebih baik. Mari kita menghargai kehidupan yang telah kita terima ini dengan menjalaninya dengan penuh nilai dan makna yang berharga. Mari menjalani hidup yang lebih baik…

Hari Minggu di akhir bulan Juni lalu, bersama Jo dan Mercy kami berangkat ke Jakarta. Awalnya rencana kami adalah menjenguk salah satu sahabat kami yang melahirkan. Namun setelah melaju di jalan tol, tiba-tiba kami teringat kalo kami memiliki voucher menginap di salah satu hotel dan bisa dipakai di kota mana saja. Nah, kebetulan voucher ada di mobil. Kami pun berpikir kenapa nggak menginap aja sekalian di Jakarta. Akhirnya setelah mengontak pihak hotel untuk konfirmasi, kami pun siap untuk check in setelah tiba di Jakarta.

Setelah melewati jalan tol yang panjang dan memasuki Jakarta, kami segera menuju ke arah Slipi. Karena tak hafal jalanan di Jakarta, akhirnya Jo mengakses layanan GPS dari blackberry nya. Setelah lokasi kami dan hotel tujuan kami terdeteksi, maka GPS menuntun kami ke arah hotel. Saat arah panah di GPS mengharuskan kami belok ke kanan atau ke kiri, kami mengikuti dengan hati-hati. Ah, sejauh ini perjalanan kami aman karena sesuai dengan arahan dari GPS dan hotel tujuan kami pun semakin dekat.  Namun tiba-tiba…kami dibingungkan dengan arah yang ditunjukkan GPS. Dalam layar tersebut, kami diarahlan untuk belok ke kiri, namun tiba-tiba kami menjadi ragu-ragu karena jalan yang dimaksud bukanlah jalan raya seperti yang sedang kami lewati namun lebih mirip gang yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Melihat itu, kami menjadi ragu-ragu karena jalan begitu sempit. Pikir kami apakah memang benar ini jalan yang harus kami lewati. Rasanya sulit untuk dipercaya. Karena harus mengambil keputusan, akhirnya Jo memutuskan untuk tidak mengambil jalan tersebut dan saya pun setuju. Akhirnya kami pun terus melaju. Namun apa yang terjadi? Rupanya dalam layar GPS kami melihat arah kami justru menjauh dari rute perjalanan kami dan terus menjauh dan…..rupanya di depan jalanan sangat macet. Kami baru sadar kalau kami berada di kawasan tanah abang yang sangat padat. Kami pun terjebak hampir satu jam di tempat itu. Yah…..

Dalam hati kami menyesal mengapa tadi kami nggak menurut saja dengan arahan dari GPS tapi gimana lagi….udah terlanjur deh. Singkat cerita, setelah tanya beberapa kali akhirnya kami sampai juga ke hotel tujuan kami tapi setelah satu setengah jam kemudian dan melalui jalan yang memutar jauh. Dan kami baru sadar jika tadi kami mengikuti jalan yang sempit itu, rupanya ujungnya tak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Dari kejadian itu, saya jadi teringat sesuatu. Dalam menjalani kehidupan ini, selalu ada dua pilihan jalan yaitu jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Misalnya, banyak orang yang ingin menjadi sukses dan kaya raya. Untuk bisa mewujudkannya, ada dua jalan yang bisa ditempuh. Melalui jalan yang sempit, yang berupa mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri serta kerja keras dengan penuh semangat untuk meraihnya atau kita lebih memilih jalan yang lebar, dengan menghalalkan segala cara, merugikan orang lain, jegal sana-sini asal keinginan bisa segera terwujud. Jalan yang lebar seolah-olah membawa kita cepat sampai ke tujuan, namun ternyata ujungnya menuju kerugian.

Jalan yang lebar seolah-olah menjadi populer dan sangat diminati banyak orang. Tetapi kita perlu bisa melihat dimana ujung dari jalan tersebut. Jika kita tahu ujungnya bakal membuat kita rugi, pasti kita harus berpikir seribu kali untuk mengambil jalan tersebut. Sementara jalan yang sempit seolah-olah membuat kita menjadi sulit, ruang gerak kita menjadi tidak bebas dan tentu saja ini bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan. Tetapi jika kita tahu ujung dari jalan tersebut membawa kita kepada keuntungan yang besar, pasti kita akan segera mengambil jalan itu. Satu hal lagi yang perlu kita ketahui,  di jalan yang lebar kecelakaan lebih seing terjadi daripada di jalan-jalan yang sempit. Karena di jalan yang lebar, kita memiliki space yang banyak untuk bisa melaju kencang. Sementara kita perlu ektra hati-hati saat melaju di jalan yang sempit.

So, think about this…Cari tahu dimana ujung jalannya dan melangkahlah dengan bijak!

Demam FB di BB

Melanjutkan cerita kemarin tentang BB (Blackberry), rupanya para pengguna BB punya banyak alasan untuk terus mengulik handphone ajaib ini. Gimana nggak ajaib, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, BB juga memiliki fasilitas khusus untuk koneksi internet. Nah…inilah yang membuat para pengguna BB jadi super sibuk. Mulai buka email, chatting, buka situs berita sampai masuk ke situs jejaring pertemanan seperti facebook (FB).

Nah FB inilah yang bikin seru. Awalnya, saya cukup maklum dengan kesibukan baru Jo. Apalagi dia baru  bergabung di FB. Waktu itu Jo juga menyarankan saya untuk ikut bergabung tapi saat itu saya belum tertarik karena saya belum melihat kegunaannya. Tapi lama kelamaan, kok rasanya Jo asyik banget kalo lagi buka FB. Kadang dia senyum-senyum sendiri trus Jo cerita kalo sekarang dia bisa berkomunikasi dengan teman-teman kami di Surabaya. Selain itu kita juga bisa lihat foto-foto mereka. Wah, rasanya boleh juga nih…Setelah hampir dua tahun meninggalkan Surabaya, kangen juga sama teman-teman disana.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti saran Jo dengan mendaftar di FB. Untuk memiliki account di FB cukup mudah, tinggal ketik www.facebook.com dan ikuti langkah-langkah berikutnya, jadi deh. Jo membantu saya mendaftar dan langsung bisa mengundang teman untuk bergabung dan upload foto-foto. Wah, sekarang komunikasi semakin canggih saja ya…dan ternyata melalui FB, saya juga bisa merasakan manfaatnya. Teman-teman mulai mengkonfirmasi permintaan pertemanan saya dan akhirnya komunikasi pun mulai terjalin kembali. Saya dan Jo bisa mengetahui kabar terbaru teman-teman kami dan bisa saling berkomunikasi dengan mudah dan murah..hehehe….

Serunya lagi, kami bisa bertemu dengan teman-teman lama kami yang udah belasan tahun bahkan puluhan tahun nggak tahu keberadaannya. Misalnya, baru-baru ini Jo bertemu dengan teman-temannya di SD. Walah….mereka udah nggak ketemu hampir 20 tahun lebih..hehehe…dan karena salah satu dari mereka tinggal di Bandung, akhirnya dua hari lalu kami mengadakan reuni kecil sambil makan malam di Ciwalk. Dan dalam waktu dekat reuni akan kembali diadakan di Jakarta bersama teman-temannya yang sudah tinggal dan menetap disana. Wah….memang situs yang satu ini lagi booming-boomingnya. Tapi tentu saja hal ini sangat bisa dimaklumi, mengingat semua orang sibuk dengan segala aktifitasnya tetapi kita masih bisa tetap berkomunikasi dengan teman-teman di belahan dunia manapun. Wah…pasti asyik dan seru banget….

Nah, untuk Anda pengguna FB, Anda punya pengalaman menarik lainnya??? Pasti!

Pagi ini pas buka email, ada dua email yang isinya sama. Satu dari ipar, satu lagi dari teman.  Begitu membaca email itu, saya mulai tersenyum-senyum sendiri. Isinya begini :

———————

Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry

Ini ada info dari teman saya, yang mengambil dari survey (beneran) yang dilakukan di negera-negara yang sedang dilanda demam Blackberry. Katanya, ada perubahan gaya hidup dan kebiasaan dari para pengguna Blackberry. Yaitu :

1. Jadi rela disuruh antri. Semakin panjang antrian, semakin tenang, tidak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali.

2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang aja.

3. Jadi berharap kena lampu merah. Kalau lampu berubah hijau, malahan kesel dan tetap nekad jawabin email/chatting.

4. Jadi sering diklaksonin orang lain, sampai sudah ada yang jual bumper sticker dengan tulisan “Harap bersabar…. .Blackberry user inside…”

5. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Bahkan rela naik busway ketimbang harus nyupir sendiri.

6. Jadi jarang marah, tapi sering dimarahin orang…. karena diajak ngomong nggak nyambung…

7. Jadi sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun, dan sering kebablasan.. .

8. Kalau lagi ngantri dengan nomor… suka lupa sama antriannya. Ketika sadar sudah kelewat…dengan tenang ambil nomor antrian lagi…

9. Langganan koran dan majalah… masih tertumpuk rapi, tak terbaca

10. Kalau jalan sering kejedug… karena mata tertuju ke layar BB.

11.. Jadi suka senyum-senyum sendiri…

12. Kalau di tempat umum suka panik cari stop kontak…karena batere sudah sekarat…

———————

Mungkin Anda pun pernah mendapat email seperti ini. Membaca hasil survey pengguna blackberry ini memang membuat saya tersenyum karena saya pun punya pengalaman yang hampir sama. Saya sendiri tak memakai blackberry, tapi suami saya pengguna blackberry yang sangat aktif. Sejak menggunakan blackberry Desember tahun lalu, wah…rasanya jo, suami saya, sibuk banget dengan ‘mainan barunya’ ini. Jarinya rajin mengulik semua perangkat di blackberry bold nya. Kadang-kadang sebel juga sih karena rada dicuekin…hehehe…

Beberapa bulan lalu, sekitar bulan Januari,  saya hadir dalam sebuah acara Telkomsel blackberry gathering. Kehadiran saya menggantikan jo yang lagi keluar kota. Selain berbagi informasi terbaru seputar perkembangan blackberry, bagi2 doorprize dan makan malam, acara juga disertai dengan tanya jawab. Ternyata di tengah tanya jawab itu, ada beberapa peserta gathering yang punya kebiasaan seperti tulisan di email saya, terutama di nomor 6, yaitu…Jadi jarang marah, tapi sering dimarahin orang…. karena diajak ngomong nggak nyambung…hehehe. Nah rupanya mereka punya pengalaman yang sama, yaitu dimarahin isterinya…..hahaha…

So, bagi Anda pengguna blackberry….apakah Anda memiliki perubahan gaya hidup akibat blackberry???

Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Orang yang pesimis, bagaimanapun juga keadaannya saat ini, akan kecewa di masa mendatang. Mari kita miliki gaya hidup yang optimis.

Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka. Tetapi sayangnya sering sekali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita!

KONSISTENSI FERGUSON

Pagi ini dalam perjalanan menuju kantor, seperti biasa, keluar dari pintu tol saya segera berhenti karena trafic light menunjukkan warna merah. Seperti hari-hari sebelumnya, saya segera membuka kaca jendela mobil, memanggil penjual koran dan meminta koran Tempo. Setelah membayar dan menutup kembali kaca jendela, saya mulai mengamati cover koran edisi hari ini. Kemudian saya membalik cover di bagian belakang dan tiba-tiba pandangan mata saya terhenti oleh sebuah artikel singkat berjudul “Konsistensi Ferguson” di bagian atas. Begini isi artikelnya :

KONSISTENSI FERGUSON

Dari sosok Manajer Manchester United Alex Ferguson, kita bisa belajar tentang betapa bermakna dan pentingnya sebuah proses–di zaman yang kian mengagungkan dan serba instan. Ketika pemilik Chelsea, Roman Abramovich, memecat pelatih Luiz Felipe Scolari, yang baru menangani tim itu tujuh bulan, Ferguson marah.

Ferguson, yang telah bertahan memimpin MU sejak 1986, seketika mengesampingkan rivalitasnya sebagai sesama pelatih di Liga Primer Inggris dengan Scolari. “Scolari adalah pelatih besar. Inilah kalau para pemilik klub, suporter, dan media menginginkan prestasi secara instan,” kata pelatih asal Skotlandia berusia 67 tahun ini.

Ferguson tidak asal ucap. Ia telah membuktikan pergulatan prosesnya di Old Trafford dengan baik dan mempersembahkan banyak trofi lokal maupun internasional. Bahkan Liga Primer musim 2008/2009 hampir pasti dimenangi lagi oleh The Red Devils. –

Ya, artikelnya sangat pendek tetapi membuat saya teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu salah seorang pemimpin saya mengajarkan tentang sebuah konsistensi. “Kalau kita mau menikmati dan mengalami hidup yang lebih berarti, lebih bermakna dan bernilai, kita harus memiliki gaya hidup konsisten,” katanya saat itu. Orang yang konsisten adalah orang yang stabil dan selalu fokus pada arah dan tujuan. Dalam mencapai tujuan, kita perlu melangkah dengan konsisten karena oang yang konsisten tidak akan pernah mundur tetapi ia akan terus melangkah maju, memperhatikan sikap dan langkahnya supaya bisa mencapai tujuannya.

Hari ini saya belajar sesuatu, bahwa konsistensi memang sangat penting dan wajib kita jadikan sebagai gaya hidup. Dengan begitu, kita tidak akan pernah berpikir lagi untuk mundur tetapi terus maju dan menikmati hidup yang lebih bermakna!

 

Merasa Aman

Orang yang memiliki gaya hidup untuk rencana Tuhan saja yang terjadi dalam hidupnya, dimana pun berada, ia akan merasa aman!

Jalan menuju BAHAGIA dan SUKSES tidak selalu lurus. Ada tikungan bernama kegagalan, ada bundaran bernama kebingungan, tanjakan bernama teman, lampu merah bernama musuh, lampu kuning bernama keluarga. Kita akan mengalami ban kempes dan pecah. Namun, itulah hidup. Tetapi jika kita membawa ban serep bernama TEKAD, mesin bernama KETEKUNAN, asuransi bernama IMAN, maka sampailah kita ke daerah yang disebut SUKSES & BAHAGIA!

Suatu hari, saya sempat berjumpa kembali dengan salah satu teman ayah saya. Yah…boleh dibilang sahabat lah. Ketika saya masih kecil, keluarga kami sering menghabiskan waktu bersama. Mereka adalah keluarga yang sangat berada, boleh dibilang kaya raya. Rasanya uang seperti tak ada artinya buat mereka. Kehidupan mereka pun sangat mapan. Si om yang ganteng dan berduit, si tante yang cantik dan pintar. Wah…kalau orang melihat mereka pasti iri dibuatnya.

Namun setelah dua puluh lima tahun kemudian…ternyata keadaan berubah drastis. Si om yang selalu tampil keren dan parlente pun kini tak lagi berpenampilan seperti itu. Bahkan ia tak lagi hidup bersama isterinya yang cantik. Anak semata wayangnya yang kini telah menjadi orang sukses pun, sudah tak lagi menghargainya sebagai ayah.  Dan ia tinggal di rumah petak dengan keadaan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Bahkan sangat sangat menyedihkan. Bahkan… untuk membeli beras pun, harus mencari pinjaman kesana kemari.

Ketika saya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya menjadi sedih dan prihatin. Rupanya, kehidupan yang mapan tak membuat seseorang bisa mengucap syukur dan menikmati berkat Tuhan. Akhirnya ia mulai selingkuh sana sini sampai akhirnya isterinya tak tahan lagi dan memutuskan untuk berpisah. Anaknya pun mengambil langkah serupa dan lebih memilih menjauh dari kehidupan sang ayah. Sementara usaha yang dirintisnya pun hancur karena kemalasan, pola hidup yang acak-acakan dan gaya hidup boros yang luar biasa sehingga ia tak sanggup lagi mengelola usaha dengan baik. Akibatnya, sangat tragis. Semua pekerjaan dan usahanya ambruk dan seluruh hartanya melayang.

So, hari ini… kita belajar sesuatu, bahwa setiap kesempatan ialah anugerah yang takkan pernah terulang. Karena itu, bersyukurlah untuk setiap kesempatan yang diberikan Tuhan hari ini!

Tulisan Sebelumnya »