Arsip Bulanan: Desember 2008

Kehilangan Semangat

Kehilangan Semangat

Alkisah, suatu kali si iblis memamerkan senjata-senjatanya yang digunakan untuk menjatuhkan kita. Senjata itu adalah sakit hati, iri hati, kecemburuan, kebohongan, dll. Tapi di sudut lain ada senjata yang dikhususkan dan menjadi senjata yang mematikan. Senjata khusus ini digunakan saat kita tidak dapat dijatuhkan dengan senjata-senjata yang pertama tadi. Dan anehnya, senjata itu selalu berhasil. Nama senjata itu adalah DISCOURAGEMENT (kehilangan semangat)!

So…jangan pernah kehilangan semangatmu! Bangkit dan melangkahlah dengan penuh pengharapan!

Bebas Memilih

Bebas Memilih

Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih. Tetapi sekali kita memilih, kita harus melayani pilihan itu. Setiap hari kita harus memilih dalam beberapa area hidup yang mungkin kecil saat itu. Kita dapat memilih jalan mudah atau sukar, tetapi ketika disatukan akan membentuk masa depan kita. So…pilihan ada di tangan kita!

Apa Yang Membedakan?

Apa Yang Membedakan?

Suatu hari, seorang ibu meminta anak sulungnya membeli sebotol minyak. Dalam perjalanan pulang, si sulung terjatuh. Minyak dalam botolnya tumpah separuh. “Bu, tadi saya jatuh dan menumpahkan minyak setengah botol,” katanya. Hari berikutnya, si bungsu melakukan hal yang sama dan ia berkata,”Bu, tadi saya jatuh. Minyaknya tumpah tetapi saya berhasil menyelamatkan separuhnya.”

Apa yang membedakan? Cara Pandang! Jadi… yang terpenting bukanlah apa yang terjadi tetapi bagaimana kita menyikapi!

Support Keluarga

Support Keluarga

Patrick Hughes, lahir buta dan lumpuh. Tapi ia punya prestasi luar biasa. Ia adalah anggota band sekolah, pianis yang pernah menggelar konser di Kennedy Center dan seorang artis rekaman. Ia juga mahasiswa dengan predikat “Straight A” dan menerima Disney’s Wide World of Sport Spirit Award 2006.

Faktor terpenting Patrick adalah dukungan orang tuanya. Ibu dan kedua adiknya adalah suporter setianya. Ayahnya yang bekerja di perusahaan pengiriman dengan sengaja mengambil kerja shift malam supaya pada siang hari ia dapat menjadi “mata dan kaki” buat Patrick di sekolah. Ketika Patrick menjadi anggota marching band berkursi roda pertama di kampusnya (sebagai peniup terompet), ayahnya turut serta dalam barisan; mendorong kursi rodanya, berputar mengikuti barisan dan membentuk formasi.

So…tempat terpenting dalam pertumbuhan karakter anak bukan sekolah, melainkan di rumah bersama keluarga. Kesuksesan juga bukan hanya milik sebagian orang tetapi untuk setiap orang yang mau keluar dari “zona nyaman” nya dan berani membayar harganya!

Teguran Seorang Sahabat

Teguran Seorang Sahabat

Tanpa teguran, dengan mudah kita dapat disesatkan oleh pelbagai godaan dan kita bisa menjadi mati rasa terhadap kesalahan. Jika ada seorang teman atau sahabat yang masih menegur dan membuat kita merasa bersalah ketika kita berbuat kesalahan, itu tandanya kita masih masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan tersebut. Karena itu, dengarkan dan hargailah teguran seorang teman atau sahabat, sebab mereka melakukannya karena peduli dan mengasihi kita!

Mengapa Saya?

Mengapa Saya?

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam Amerika yang memenangkan 3 gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Autralia Open (1970) & Wimbledon (1975). Pada tahun 1979, ia terkena serangan jantung dan harus menjalani operasi by pass. Setelah 2 kali operasi, ternyata ia terinveksi virus HIV melalui transfusi darah yang diterimanya.

Ketika berada di rumah sakit, ia mendapat banyak surat dari penggemarnya. Mereka mendukung dan bersimpati kepada Ashe. Dan salah satu penggemarnya memberikan sebuah pertanyaan kepadanya. “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit seperti ini?”

Dan Ashe pun menjawab pertanyaan itu. Di dunia ini ada 5o juta anak yang ingin bermain tenis. Dan hanya 5 juta diantaranya yang bisa belajar bermain tenis. Sementara  500 ribu pelajar tersebut berhasil menjadi petenis profesional. Dari angka itu, hanya 50 ribu yang datang ke arena untuk bertanding. Dan 5 ribu yang mencapai turnamen Grand Slam. 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, 4 orang masuk di semi final, 2 orang berlaga di final dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya?” Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya ya Tuhan?”

Jadi…ketika kita menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat-saat ketika menerima yang baik!

Melalui Jalan Memutar

Melalui Jalan Memutar

Kerapkali Tuhan sengaja membawa kita menempuh “jalan memutar”. Bentuknya bisa berupa masalah-masalah yang Dia ijinkan terjadi dalam hidup kita. Semuanya ini mungkin membuat kita putus asa. Namun, jangan menyerah. Jalanilah semua dengan tetap percaya kepada Tuhan. Pada saatnya nanti, Tuhan akan menuntun kita keluar dari situ. Dan kita akan siap menjalani kehidupan dengan lebih mantap.