Hari Minggu di akhir bulan Juni lalu, bersama Jo dan Mercy kami berangkat ke Jakarta. Awalnya rencana kami adalah menjenguk salah satu sahabat kami yang melahirkan. Namun setelah melaju di jalan tol, tiba-tiba kami teringat kalo kami memiliki voucher menginap di salah satu hotel dan bisa dipakai di kota mana saja. Nah, kebetulan voucher ada di mobil. Kami pun berpikir kenapa nggak menginap aja sekalian di Jakarta. Akhirnya setelah mengontak pihak hotel untuk konfirmasi, kami pun siap untuk check in setelah tiba di Jakarta.
Setelah melewati jalan tol yang panjang dan memasuki Jakarta, kami segera menuju ke arah Slipi. Karena tak hafal jalanan di Jakarta, akhirnya Jo mengakses layanan GPS dari blackberry nya. Setelah lokasi kami dan hotel tujuan kami terdeteksi, maka GPS menuntun kami ke arah hotel. Saat arah panah di GPS mengharuskan kami belok ke kanan atau ke kiri, kami mengikuti dengan hati-hati. Ah, sejauh ini perjalanan kami aman karena sesuai dengan arahan dari GPS dan hotel tujuan kami pun semakin dekat. Namun tiba-tiba…kami dibingungkan dengan arah yang ditunjukkan GPS. Dalam layar tersebut, kami diarahlan untuk belok ke kiri, namun tiba-tiba kami menjadi ragu-ragu karena jalan yang dimaksud bukanlah jalan raya seperti yang sedang kami lewati namun lebih mirip gang yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Melihat itu, kami menjadi ragu-ragu karena jalan begitu sempit. Pikir kami apakah memang benar ini jalan yang harus kami lewati. Rasanya sulit untuk dipercaya. Karena harus mengambil keputusan, akhirnya Jo memutuskan untuk tidak mengambil jalan tersebut dan saya pun setuju. Akhirnya kami pun terus melaju. Namun apa yang terjadi? Rupanya dalam layar GPS kami melihat arah kami justru menjauh dari rute perjalanan kami dan terus menjauh dan…..rupanya di depan jalanan sangat macet. Kami baru sadar kalau kami berada di kawasan tanah abang yang sangat padat. Kami pun terjebak hampir satu jam di tempat itu. Yah…..
Dalam hati kami menyesal mengapa tadi kami nggak menurut saja dengan arahan dari GPS tapi gimana lagi….udah terlanjur deh. Singkat cerita, setelah tanya beberapa kali akhirnya kami sampai juga ke hotel tujuan kami tapi setelah satu setengah jam kemudian dan melalui jalan yang memutar jauh. Dan kami baru sadar jika tadi kami mengikuti jalan yang sempit itu, rupanya ujungnya tak jauh dari hotel tempat kami menginap.
Dari kejadian itu, saya jadi teringat sesuatu. Dalam menjalani kehidupan ini, selalu ada dua pilihan jalan yaitu jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Misalnya, banyak orang yang ingin menjadi sukses dan kaya raya. Untuk bisa mewujudkannya, ada dua jalan yang bisa ditempuh. Melalui jalan yang sempit, yang berupa mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri serta kerja keras dengan penuh semangat untuk meraihnya atau kita lebih memilih jalan yang lebar, dengan menghalalkan segala cara, merugikan orang lain, jegal sana-sini asal keinginan bisa segera terwujud. Jalan yang lebar seolah-olah membawa kita cepat sampai ke tujuan, namun ternyata ujungnya menuju kerugian.
Jalan yang lebar seolah-olah menjadi populer dan sangat diminati banyak orang. Tetapi kita perlu bisa melihat dimana ujung dari jalan tersebut. Jika kita tahu ujungnya bakal membuat kita rugi, pasti kita harus berpikir seribu kali untuk mengambil jalan tersebut. Sementara jalan yang sempit seolah-olah membuat kita menjadi sulit, ruang gerak kita menjadi tidak bebas dan tentu saja ini bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan. Tetapi jika kita tahu ujung dari jalan tersebut membawa kita kepada keuntungan yang besar, pasti kita akan segera mengambil jalan itu. Satu hal lagi yang perlu kita ketahui, di jalan yang lebar kecelakaan lebih seing terjadi daripada di jalan-jalan yang sempit. Karena di jalan yang lebar, kita memiliki space yang banyak untuk bisa melaju kencang. Sementara kita perlu ektra hati-hati saat melaju di jalan yang sempit.
So, think about this…Cari tahu dimana ujung jalannya dan melangkahlah dengan bijak!