Arsip Kategori: Story

Bijak Hadapi Modus Penipuan

Bijak Hadapi Modus Penipuan

Pernahkah Anda menerima pesan BBM atau SMS yang berisi himbauan agar kita waspada dengan modus penipuan yang sedang marak akhir-akhir ini? Misalnya tentang info yang menyesatkan mengenai anak kita yang jatuh di sekolah, mengalami pendarahan otak dan sedang dibawa ke rumah sakit? Ketika mendengar berita seperti itu, pasti kita pun merasa panik.
Itulah yang kami alami kemarin. Sekitar jam 9 pagi, mama mertua saya yang tinggal di Surabaya mendapat telepon (bukan HP) dari seorang pria yang mengaku sebagai satpam di sekolah anak saya. Dengan panik, ia mengatakan kalau anak semata wayang kami (yang duduk di kelas 3 SD) baru saja jatuh dari tangga sekolah dan mengalami pendarahan di otak dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit. Mendengar berita buruk seperti itu, nenek mana yang tidak akan panik dan gemetaran. Masih dalam suasana panik, pria itu meminta nomor HP suami saya. Saat dijawab akan dicari, si penelpon langsung marah dan meminta mama mertua saya tidak menghubungi suami saya tapi langsung memberikan nomor telepon kepadanya. Mendengar itu, tentu saja mama mertua saya menjadi kesal dan berkata seharusnya pihak sekolah memiliki data tentang orang tua murid. Ini kok malah bertanya-tanya. Masih dengan nada marah, si pria menutup telepon dan berjanji akan menepon kembali . Dan benar, tak lama kemudian, pria itu kembali menelepon dan dengan marah dan ngotot minta nomor HP suami saya. Mendengar itu, mama mertua saya semakin panik dan semakin bingung untuk mencari nomor telepon suami saya. (Maklum, di usia yang tak muda lagi akan sangat sulit mencari nomor telepon apalagi mencarinya melalui handphone….hehehe…) Sementara lama tak menemukan nomor telepon, si pria itu dengan gusar mengakhiri perbincangan dan menutup telepon.
Saat itulah, mama mertua saya menghubungi suami saya dan menceritakan tentang kabar yang baru saja didengarnya. Sementara itu, mama mertua saya juga meminta suaminya (papa mertua saya) untuk segera masuk ke kamar dan berdoa untuk keselamatan anak kami. Ia juga menghubungi kedua anaknya yang lain (kakak dan adik ipar saya) untuk mendukung dalam doa. Ketika suami saya mendengar kabar tersebut, kepanikan pun merambah ke Bandung, tempat kami tinggal. Dengan panic pula suami menelpon saya dan memberitahukan kabar buruk tersebut. Dengan cepat saya mengangkat gagang telepon dan menghubungi sekolah anak kami. Setelah bertanya keadaan anak kami, Miss/Guru anak kami memberitahu kalau Mercy, anak kami sedang belajar di kelas dengan aman, damai, sejaktera dan sentosa. Mendengar itu, tentu saja hati saya sangat lega. Setelah menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada pihak sekolah, pihak sekolah mengingatkan kepada kami supaya kami tetap waspada dan berhati-hati dengan modus penipuan seperti itu dan tetap menghubungi pihak sekolah untuk konfirmasi terlebih dahulu. Setelah memberikan kabar kepada suami saya (yang segera diteruskan ke keluarga besar kami), akhirnya kepanikan pun mereda. Kami pun bersyukur kepada Tuhan yang telah melindungi anak kami dan yang telah meluputkan kami dari penipuan.
Haah….lega rasanya……
Cerita Beberapa Teman.
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya pernah menceritakan kejadian seperti apa yang saya alami barusan. Saat itu mama si anak sudah menuju rumah sakit yang disebutkan dan setelah di cek, ternyata anaknya tidak berada di sana. Beruntung ia tak segera mentransfer sejumlah uang yang diminta si penelpon. Salah seorang teman yang lain juga menceritakan pengalaman temannya yang teripu satu juta rupiah karena mendapatkan kabar jika mamanya sedang mengalami kecelakaan dan sedang dibawa ke rumah sakit. Sementara ada juga seorang ibu yang terlanjur menstransfer uang sebesar 30 juta rupiah kepada penelpon yang memberitahukan bahwa anaknya mengalami kecelakaan dan sedang berada dirumah sakit untuk operasi. Wah….benar-benar modus penipuan yang memanfaatkan sebuah kepanikan.
Nah, berdasarkan cerita teman-teman ditambah pengalaman saya kemarin, ada beberapa tips dari saya yang mungkin bisa membantu Anda terhindar dari modus penipuan serupa, antara lain :
1. Tetap Tenang
Ketika mendapat kabar buruk, pasti kepanikan segera melanda. Dan situasi seperti inilah yang diharapkan oleh penipu. Karena ketika dalam keadaan panik, kita tidak akan bisa berpikir dengan akal sehat dan penipu berusaha mengambil keuntungan dari situasi seperti itu untuk meminta kita mentransfer sejumlah uang kepadanya.

2. Tanyakan Nama Anak Kita.
Hal ini sangat penting untuk konfirmasi data. Karena jangan-jangan si penipu nggak tahu juga nama anak kita alias ngawur…..hehehe….

3. Tanyakan Kronologis Kejadiannya
Hal ini juga sangat penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang lokasi kejadian dan situasi yang sedang terjadi. Jika penelpon adalah orang yang benar-benar ingin menolong, maka pasti ia tidak keberatan untuk menceritakan kronologis kejadiannya, bukan malah membuat panik dan marah-marah.

4. Tanyakan identitas Penelpon
Tanyakan nama dan nomor kontak yang bisa dihibungi. Kalau memang berniat untuk menolong, maka ia tidak akan keberatan untuk diminta identitasnya.

5. Tanyakan Rumah Sakit Yang Disebutkan
Hal ini untuk memastikan rumah sakit tersebut ada di kota kita atau anak kita berada. Jangan sampai ia mengatakan rumah sakitnya ada di Surabaya sementara anak kita sekolahnya di Bandung. Nah, aneh kan?

6. Segera Hubungi Pihak Terkait
Pastikan untuk segera mengkonfirmasi berita tersebut. Bisa ke sekolah, rumah sakit atau langsung kepada yang bersakutan. Jika telepon yang bersangkutan tidak aktif, bisa mencari informasi ke anggota keluarga atau teman terdekatnya.

7. Akhiri Pembicaraan
Jika kita sudah pasti merasa bahwa seluruh informasi yang diberikan kepada kita salah dan kita merasa yakin kalau info itu tidak benar, maka segera akhiri pembicaraan dengan mengatakan, “Terima kasih telah menghubungi saya dan telah berusaha menipu saya. Tapi maaf, usaha Anda sudah sia-sia. Kasihan deh lu……hahahaha….”

Pilih Jalan Yang Lebar atau Sempit?

Pilih Jalan Yang Lebar atau Sempit?

Hari Minggu di akhir bulan Juni lalu, bersama Jo dan Mercy kami berangkat ke Jakarta. Awalnya rencana kami adalah menjenguk salah satu sahabat kami yang melahirkan. Namun setelah melaju di jalan tol, tiba-tiba kami teringat kalo kami memiliki voucher menginap di salah satu hotel dan bisa dipakai di kota mana saja. Nah, kebetulan voucher ada di mobil. Kami pun berpikir kenapa nggak menginap aja sekalian di Jakarta. Akhirnya setelah mengontak pihak hotel untuk konfirmasi, kami pun siap untuk check in setelah tiba di Jakarta.

Setelah melewati jalan tol yang panjang dan memasuki Jakarta, kami segera menuju ke arah Slipi. Karena tak hafal jalanan di Jakarta, akhirnya Jo mengakses layanan GPS dari blackberry nya. Setelah lokasi kami dan hotel tujuan kami terdeteksi, maka GPS menuntun kami ke arah hotel. Saat arah panah di GPS mengharuskan kami belok ke kanan atau ke kiri, kami mengikuti dengan hati-hati. Ah, sejauh ini perjalanan kami aman karena sesuai dengan arahan dari GPS dan hotel tujuan kami pun semakin dekat.  Namun tiba-tiba…kami dibingungkan dengan arah yang ditunjukkan GPS. Dalam layar tersebut, kami diarahlan untuk belok ke kiri, namun tiba-tiba kami menjadi ragu-ragu karena jalan yang dimaksud bukanlah jalan raya seperti yang sedang kami lewati namun lebih mirip gang yang hanya bisa dilewati satu mobil saja. Melihat itu, kami menjadi ragu-ragu karena jalan begitu sempit. Pikir kami apakah memang benar ini jalan yang harus kami lewati. Rasanya sulit untuk dipercaya. Karena harus mengambil keputusan, akhirnya Jo memutuskan untuk tidak mengambil jalan tersebut dan saya pun setuju. Akhirnya kami pun terus melaju. Namun apa yang terjadi? Rupanya dalam layar GPS kami melihat arah kami justru menjauh dari rute perjalanan kami dan terus menjauh dan…..rupanya di depan jalanan sangat macet. Kami baru sadar kalau kami berada di kawasan tanah abang yang sangat padat. Kami pun terjebak hampir satu jam di tempat itu. Yah…..

Dalam hati kami menyesal mengapa tadi kami nggak menurut saja dengan arahan dari GPS tapi gimana lagi….udah terlanjur deh. Singkat cerita, setelah tanya beberapa kali akhirnya kami sampai juga ke hotel tujuan kami tapi setelah satu setengah jam kemudian dan melalui jalan yang memutar jauh. Dan kami baru sadar jika tadi kami mengikuti jalan yang sempit itu, rupanya ujungnya tak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Dari kejadian itu, saya jadi teringat sesuatu. Dalam menjalani kehidupan ini, selalu ada dua pilihan jalan yaitu jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Misalnya, banyak orang yang ingin menjadi sukses dan kaya raya. Untuk bisa mewujudkannya, ada dua jalan yang bisa ditempuh. Melalui jalan yang sempit, yang berupa mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri serta kerja keras dengan penuh semangat untuk meraihnya atau kita lebih memilih jalan yang lebar, dengan menghalalkan segala cara, merugikan orang lain, jegal sana-sini asal keinginan bisa segera terwujud. Jalan yang lebar seolah-olah membawa kita cepat sampai ke tujuan, namun ternyata ujungnya menuju kerugian.

Jalan yang lebar seolah-olah menjadi populer dan sangat diminati banyak orang. Tetapi kita perlu bisa melihat dimana ujung dari jalan tersebut. Jika kita tahu ujungnya bakal membuat kita rugi, pasti kita harus berpikir seribu kali untuk mengambil jalan tersebut. Sementara jalan yang sempit seolah-olah membuat kita menjadi sulit, ruang gerak kita menjadi tidak bebas dan tentu saja ini bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan. Tetapi jika kita tahu ujung dari jalan tersebut membawa kita kepada keuntungan yang besar, pasti kita akan segera mengambil jalan itu. Satu hal lagi yang perlu kita ketahui,  di jalan yang lebar kecelakaan lebih seing terjadi daripada di jalan-jalan yang sempit. Karena di jalan yang lebar, kita memiliki space yang banyak untuk bisa melaju kencang. Sementara kita perlu ektra hati-hati saat melaju di jalan yang sempit.

So, think about this…Cari tahu dimana ujung jalannya dan melangkahlah dengan bijak!

Demam FB di BB

Demam FB di BB

Melanjutkan cerita kemarin tentang BB (Blackberry), rupanya para pengguna BB punya banyak alasan untuk terus mengulik handphone ajaib ini. Gimana nggak ajaib, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, BB juga memiliki fasilitas khusus untuk koneksi internet. Nah…inilah yang membuat para pengguna BB jadi super sibuk. Mulai buka email, chatting, buka situs berita sampai masuk ke situs jejaring pertemanan seperti facebook (FB).

Nah FB inilah yang bikin seru. Awalnya, saya cukup maklum dengan kesibukan baru Jo. Apalagi dia baru  bergabung di FB. Waktu itu Jo juga menyarankan saya untuk ikut bergabung tapi saat itu saya belum tertarik karena saya belum melihat kegunaannya. Tapi lama kelamaan, kok rasanya Jo asyik banget kalo lagi buka FB. Kadang dia senyum-senyum sendiri trus Jo cerita kalo sekarang dia bisa berkomunikasi dengan teman-teman kami di Surabaya. Selain itu kita juga bisa lihat foto-foto mereka. Wah, rasanya boleh juga nih…Setelah hampir dua tahun meninggalkan Surabaya, kangen juga sama teman-teman disana.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti saran Jo dengan mendaftar di FB. Untuk memiliki account di FB cukup mudah, tinggal ketik www.facebook.com dan ikuti langkah-langkah berikutnya, jadi deh. Jo membantu saya mendaftar dan langsung bisa mengundang teman untuk bergabung dan upload foto-foto. Wah, sekarang komunikasi semakin canggih saja ya…dan ternyata melalui FB, saya juga bisa merasakan manfaatnya. Teman-teman mulai mengkonfirmasi permintaan pertemanan saya dan akhirnya komunikasi pun mulai terjalin kembali. Saya dan Jo bisa mengetahui kabar terbaru teman-teman kami dan bisa saling berkomunikasi dengan mudah dan murah..hehehe….

Serunya lagi, kami bisa bertemu dengan teman-teman lama kami yang udah belasan tahun bahkan puluhan tahun nggak tahu keberadaannya. Misalnya, baru-baru ini Jo bertemu dengan teman-temannya di SD. Walah….mereka udah nggak ketemu hampir 20 tahun lebih..hehehe…dan karena salah satu dari mereka tinggal di Bandung, akhirnya dua hari lalu kami mengadakan reuni kecil sambil makan malam di Ciwalk. Dan dalam waktu dekat reuni akan kembali diadakan di Jakarta bersama teman-temannya yang sudah tinggal dan menetap disana. Wah….memang situs yang satu ini lagi booming-boomingnya. Tapi tentu saja hal ini sangat bisa dimaklumi, mengingat semua orang sibuk dengan segala aktifitasnya tetapi kita masih bisa tetap berkomunikasi dengan teman-teman di belahan dunia manapun. Wah…pasti asyik dan seru banget….

Nah, untuk Anda pengguna FB, Anda punya pengalaman menarik lainnya??? Pasti!

Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry

Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry

Pagi ini pas buka email, ada dua email yang isinya sama. Satu dari ipar, satu lagi dari teman.  Begitu membaca email itu, saya mulai tersenyum-senyum sendiri. Isinya begini :

———————

Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry

Ini ada info dari teman saya, yang mengambil dari survey (beneran) yang dilakukan di negera-negara yang sedang dilanda demam Blackberry. Katanya, ada perubahan gaya hidup dan kebiasaan dari para pengguna Blackberry. Yaitu :

1. Jadi rela disuruh antri. Semakin panjang antrian, semakin tenang, tidak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali.

2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang aja.

3. Jadi berharap kena lampu merah. Kalau lampu berubah hijau, malahan kesel dan tetap nekad jawabin email/chatting.

4. Jadi sering diklaksonin orang lain, sampai sudah ada yang jual bumper sticker dengan tulisan “Harap bersabar…. .Blackberry user inside…”

5. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Bahkan rela naik busway ketimbang harus nyupir sendiri.

6. Jadi jarang marah, tapi sering dimarahin orang…. karena diajak ngomong nggak nyambung…

7. Jadi sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun, dan sering kebablasan.. .

8. Kalau lagi ngantri dengan nomor… suka lupa sama antriannya. Ketika sadar sudah kelewat…dengan tenang ambil nomor antrian lagi…

9. Langganan koran dan majalah… masih tertumpuk rapi, tak terbaca

10. Kalau jalan sering kejedug… karena mata tertuju ke layar BB.

11.. Jadi suka senyum-senyum sendiri…

12. Kalau di tempat umum suka panik cari stop kontak…karena batere sudah sekarat…

———————

Mungkin Anda pun pernah mendapat email seperti ini. Membaca hasil survey pengguna blackberry ini memang membuat saya tersenyum karena saya pun punya pengalaman yang hampir sama. Saya sendiri tak memakai blackberry, tapi suami saya pengguna blackberry yang sangat aktif. Sejak menggunakan blackberry Desember tahun lalu, wah…rasanya jo, suami saya, sibuk banget dengan ‘mainan barunya’ ini. Jarinya rajin mengulik semua perangkat di blackberry bold nya. Kadang-kadang sebel juga sih karena rada dicuekin…hehehe…

Beberapa bulan lalu, sekitar bulan Januari,  saya hadir dalam sebuah acara Telkomsel blackberry gathering. Kehadiran saya menggantikan jo yang lagi keluar kota. Selain berbagi informasi terbaru seputar perkembangan blackberry, bagi2 doorprize dan makan malam, acara juga disertai dengan tanya jawab. Ternyata di tengah tanya jawab itu, ada beberapa peserta gathering yang punya kebiasaan seperti tulisan di email saya, terutama di nomor 6, yaitu…Jadi jarang marah, tapi sering dimarahin orang…. karena diajak ngomong nggak nyambung…hehehe. Nah rupanya mereka punya pengalaman yang sama, yaitu dimarahin isterinya…..hahaha…

So, bagi Anda pengguna blackberry….apakah Anda memiliki perubahan gaya hidup akibat blackberry???

KONSISTENSI FERGUSON

KONSISTENSI FERGUSON

Pagi ini dalam perjalanan menuju kantor, seperti biasa, keluar dari pintu tol saya segera berhenti karena trafic light menunjukkan warna merah. Seperti hari-hari sebelumnya, saya segera membuka kaca jendela mobil, memanggil penjual koran dan meminta koran Tempo. Setelah membayar dan menutup kembali kaca jendela, saya mulai mengamati cover koran edisi hari ini. Kemudian saya membalik cover di bagian belakang dan tiba-tiba pandangan mata saya terhenti oleh sebuah artikel singkat berjudul “Konsistensi Ferguson” di bagian atas. Begini isi artikelnya :

KONSISTENSI FERGUSON

Dari sosok Manajer Manchester United Alex Ferguson, kita bisa belajar tentang betapa bermakna dan pentingnya sebuah proses–di zaman yang kian mengagungkan dan serba instan. Ketika pemilik Chelsea, Roman Abramovich, memecat pelatih Luiz Felipe Scolari, yang baru menangani tim itu tujuh bulan, Ferguson marah.

Ferguson, yang telah bertahan memimpin MU sejak 1986, seketika mengesampingkan rivalitasnya sebagai sesama pelatih di Liga Primer Inggris dengan Scolari. “Scolari adalah pelatih besar. Inilah kalau para pemilik klub, suporter, dan media menginginkan prestasi secara instan,” kata pelatih asal Skotlandia berusia 67 tahun ini.

Ferguson tidak asal ucap. Ia telah membuktikan pergulatan prosesnya di Old Trafford dengan baik dan mempersembahkan banyak trofi lokal maupun internasional. Bahkan Liga Primer musim 2008/2009 hampir pasti dimenangi lagi oleh The Red Devils. –

Ya, artikelnya sangat pendek tetapi membuat saya teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu salah seorang pemimpin saya mengajarkan tentang sebuah konsistensi. “Kalau kita mau menikmati dan mengalami hidup yang lebih berarti, lebih bermakna dan bernilai, kita harus memiliki gaya hidup konsisten,” katanya saat itu. Orang yang konsisten adalah orang yang stabil dan selalu fokus pada arah dan tujuan. Dalam mencapai tujuan, kita perlu melangkah dengan konsisten karena oang yang konsisten tidak akan pernah mundur tetapi ia akan terus melangkah maju, memperhatikan sikap dan langkahnya supaya bisa mencapai tujuannya.

Hari ini saya belajar sesuatu, bahwa konsistensi memang sangat penting dan wajib kita jadikan sebagai gaya hidup. Dengan begitu, kita tidak akan pernah berpikir lagi untuk mundur tetapi terus maju dan menikmati hidup yang lebih bermakna!

 

Anugerah Yang Tak Kan Terulang

Anugerah Yang Tak Kan Terulang

Suatu hari, saya sempat berjumpa kembali dengan salah satu teman ayah saya. Yah…boleh dibilang sahabat lah. Ketika saya masih kecil, keluarga kami sering menghabiskan waktu bersama. Mereka adalah keluarga yang sangat berada, boleh dibilang kaya raya. Rasanya uang seperti tak ada artinya buat mereka. Kehidupan mereka pun sangat mapan. Si om yang ganteng dan berduit, si tante yang cantik dan pintar. Wah…kalau orang melihat mereka pasti iri dibuatnya.

Namun setelah dua puluh lima tahun kemudian…ternyata keadaan berubah drastis. Si om yang selalu tampil keren dan parlente pun kini tak lagi berpenampilan seperti itu. Bahkan ia tak lagi hidup bersama isterinya yang cantik. Anak semata wayangnya yang kini telah menjadi orang sukses pun, sudah tak lagi menghargainya sebagai ayah.  Dan ia tinggal di rumah petak dengan keadaan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Bahkan sangat sangat menyedihkan. Bahkan… untuk membeli beras pun, harus mencari pinjaman kesana kemari.

Ketika saya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya menjadi sedih dan prihatin. Rupanya, kehidupan yang mapan tak membuat seseorang bisa mengucap syukur dan menikmati berkat Tuhan. Akhirnya ia mulai selingkuh sana sini sampai akhirnya isterinya tak tahan lagi dan memutuskan untuk berpisah. Anaknya pun mengambil langkah serupa dan lebih memilih menjauh dari kehidupan sang ayah. Sementara usaha yang dirintisnya pun hancur karena kemalasan, pola hidup yang acak-acakan dan gaya hidup boros yang luar biasa sehingga ia tak sanggup lagi mengelola usaha dengan baik. Akibatnya, sangat tragis. Semua pekerjaan dan usahanya ambruk dan seluruh hartanya melayang.

So, hari ini… kita belajar sesuatu, bahwa setiap kesempatan ialah anugerah yang takkan pernah terulang. Karena itu, bersyukurlah untuk setiap kesempatan yang diberikan Tuhan hari ini!

Support Keluarga

Support Keluarga

Patrick Hughes, lahir buta dan lumpuh. Tapi ia punya prestasi luar biasa. Ia adalah anggota band sekolah, pianis yang pernah menggelar konser di Kennedy Center dan seorang artis rekaman. Ia juga mahasiswa dengan predikat “Straight A” dan menerima Disney’s Wide World of Sport Spirit Award 2006.

Faktor terpenting Patrick adalah dukungan orang tuanya. Ibu dan kedua adiknya adalah suporter setianya. Ayahnya yang bekerja di perusahaan pengiriman dengan sengaja mengambil kerja shift malam supaya pada siang hari ia dapat menjadi “mata dan kaki” buat Patrick di sekolah. Ketika Patrick menjadi anggota marching band berkursi roda pertama di kampusnya (sebagai peniup terompet), ayahnya turut serta dalam barisan; mendorong kursi rodanya, berputar mengikuti barisan dan membentuk formasi.

So…tempat terpenting dalam pertumbuhan karakter anak bukan sekolah, melainkan di rumah bersama keluarga. Kesuksesan juga bukan hanya milik sebagian orang tetapi untuk setiap orang yang mau keluar dari “zona nyaman” nya dan berani membayar harganya!

Mengapa Saya?

Mengapa Saya?

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam Amerika yang memenangkan 3 gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Autralia Open (1970) & Wimbledon (1975). Pada tahun 1979, ia terkena serangan jantung dan harus menjalani operasi by pass. Setelah 2 kali operasi, ternyata ia terinveksi virus HIV melalui transfusi darah yang diterimanya.

Ketika berada di rumah sakit, ia mendapat banyak surat dari penggemarnya. Mereka mendukung dan bersimpati kepada Ashe. Dan salah satu penggemarnya memberikan sebuah pertanyaan kepadanya. “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit seperti ini?”

Dan Ashe pun menjawab pertanyaan itu. Di dunia ini ada 5o juta anak yang ingin bermain tenis. Dan hanya 5 juta diantaranya yang bisa belajar bermain tenis. Sementara  500 ribu pelajar tersebut berhasil menjadi petenis profesional. Dari angka itu, hanya 50 ribu yang datang ke arena untuk bertanding. Dan 5 ribu yang mencapai turnamen Grand Slam. 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, 4 orang masuk di semi final, 2 orang berlaga di final dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya?” Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya ya Tuhan?”

Jadi…ketika kita menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat-saat ketika menerima yang baik!

Hello world!

Hello world!

Welcome to my blog….

Senang sekali kalau hari ini bisa memulai menulis di blog ini. Melalui blog ini saya ingin berbagai kisah dan cerita tentang kehidupan yang kita jalani. Seringkali kehidupan yang kita jalani tak semudah apa yang kita bayangkan….tetapi kita tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan ini dengan cara yang lebih baik. Mari kita menghargai kehidupan yang telah kita terima ini dengan menjalaninya dengan penuh nilai dan makna yang berharga. Mari menjalani hidup yang lebih baik…