Pernahkah Anda menerima pesan BBM atau SMS yang berisi himbauan agar kita waspada dengan modus penipuan yang sedang marak akhir-akhir ini? Misalnya tentang info yang menyesatkan mengenai anak kita yang jatuh di sekolah, mengalami pendarahan otak dan sedang dibawa ke rumah sakit? Ketika mendengar berita seperti itu, pasti kita pun merasa panik.
Itulah yang kami alami kemarin. Sekitar jam 9 pagi, mama mertua saya yang tinggal di Surabaya mendapat telepon (bukan HP) dari seorang pria yang mengaku sebagai satpam di sekolah anak saya. Dengan panik, ia mengatakan kalau anak semata wayang kami (yang duduk di kelas 3 SD) baru saja jatuh dari tangga sekolah dan mengalami pendarahan di otak dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit. Mendengar berita buruk seperti itu, nenek mana yang tidak akan panik dan gemetaran. Masih dalam suasana panik, pria itu meminta nomor HP suami saya. Saat dijawab akan dicari, si penelpon langsung marah dan meminta mama mertua saya tidak menghubungi suami saya tapi langsung memberikan nomor telepon kepadanya. Mendengar itu, tentu saja mama mertua saya menjadi kesal dan berkata seharusnya pihak sekolah memiliki data tentang orang tua murid. Ini kok malah bertanya-tanya. Masih dengan nada marah, si pria menutup telepon dan berjanji akan menepon kembali . Dan benar, tak lama kemudian, pria itu kembali menelepon dan dengan marah dan ngotot minta nomor HP suami saya. Mendengar itu, mama mertua saya semakin panik dan semakin bingung untuk mencari nomor telepon suami saya. (Maklum, di usia yang tak muda lagi akan sangat sulit mencari nomor telepon apalagi mencarinya melalui handphone….hehehe…) Sementara lama tak menemukan nomor telepon, si pria itu dengan gusar mengakhiri perbincangan dan menutup telepon.
Saat itulah, mama mertua saya menghubungi suami saya dan menceritakan tentang kabar yang baru saja didengarnya. Sementara itu, mama mertua saya juga meminta suaminya (papa mertua saya) untuk segera masuk ke kamar dan berdoa untuk keselamatan anak kami. Ia juga menghubungi kedua anaknya yang lain (kakak dan adik ipar saya) untuk mendukung dalam doa. Ketika suami saya mendengar kabar tersebut, kepanikan pun merambah ke Bandung, tempat kami tinggal. Dengan panic pula suami menelpon saya dan memberitahukan kabar buruk tersebut. Dengan cepat saya mengangkat gagang telepon dan menghubungi sekolah anak kami. Setelah bertanya keadaan anak kami, Miss/Guru anak kami memberitahu kalau Mercy, anak kami sedang belajar di kelas dengan aman, damai, sejaktera dan sentosa. Mendengar itu, tentu saja hati saya sangat lega. Setelah menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada pihak sekolah, pihak sekolah mengingatkan kepada kami supaya kami tetap waspada dan berhati-hati dengan modus penipuan seperti itu dan tetap menghubungi pihak sekolah untuk konfirmasi terlebih dahulu. Setelah memberikan kabar kepada suami saya (yang segera diteruskan ke keluarga besar kami), akhirnya kepanikan pun mereda. Kami pun bersyukur kepada Tuhan yang telah melindungi anak kami dan yang telah meluputkan kami dari penipuan.
Haah….lega rasanya……
Cerita Beberapa Teman.
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya pernah menceritakan kejadian seperti apa yang saya alami barusan. Saat itu mama si anak sudah menuju rumah sakit yang disebutkan dan setelah di cek, ternyata anaknya tidak berada di sana. Beruntung ia tak segera mentransfer sejumlah uang yang diminta si penelpon. Salah seorang teman yang lain juga menceritakan pengalaman temannya yang teripu satu juta rupiah karena mendapatkan kabar jika mamanya sedang mengalami kecelakaan dan sedang dibawa ke rumah sakit. Sementara ada juga seorang ibu yang terlanjur menstransfer uang sebesar 30 juta rupiah kepada penelpon yang memberitahukan bahwa anaknya mengalami kecelakaan dan sedang berada dirumah sakit untuk operasi. Wah….benar-benar modus penipuan yang memanfaatkan sebuah kepanikan.
Nah, berdasarkan cerita teman-teman ditambah pengalaman saya kemarin, ada beberapa tips dari saya yang mungkin bisa membantu Anda terhindar dari modus penipuan serupa, antara lain :
1. Tetap Tenang
Ketika mendapat kabar buruk, pasti kepanikan segera melanda. Dan situasi seperti inilah yang diharapkan oleh penipu. Karena ketika dalam keadaan panik, kita tidak akan bisa berpikir dengan akal sehat dan penipu berusaha mengambil keuntungan dari situasi seperti itu untuk meminta kita mentransfer sejumlah uang kepadanya.
2. Tanyakan Nama Anak Kita.
Hal ini sangat penting untuk konfirmasi data. Karena jangan-jangan si penipu nggak tahu juga nama anak kita alias ngawur…..hehehe….
3. Tanyakan Kronologis Kejadiannya
Hal ini juga sangat penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang lokasi kejadian dan situasi yang sedang terjadi. Jika penelpon adalah orang yang benar-benar ingin menolong, maka pasti ia tidak keberatan untuk menceritakan kronologis kejadiannya, bukan malah membuat panik dan marah-marah.
4. Tanyakan identitas Penelpon
Tanyakan nama dan nomor kontak yang bisa dihibungi. Kalau memang berniat untuk menolong, maka ia tidak akan keberatan untuk diminta identitasnya.
5. Tanyakan Rumah Sakit Yang Disebutkan
Hal ini untuk memastikan rumah sakit tersebut ada di kota kita atau anak kita berada. Jangan sampai ia mengatakan rumah sakitnya ada di Surabaya sementara anak kita sekolahnya di Bandung. Nah, aneh kan?
6. Segera Hubungi Pihak Terkait
Pastikan untuk segera mengkonfirmasi berita tersebut. Bisa ke sekolah, rumah sakit atau langsung kepada yang bersakutan. Jika telepon yang bersangkutan tidak aktif, bisa mencari informasi ke anggota keluarga atau teman terdekatnya.
7. Akhiri Pembicaraan
Jika kita sudah pasti merasa bahwa seluruh informasi yang diberikan kepada kita salah dan kita merasa yakin kalau info itu tidak benar, maka segera akhiri pembicaraan dengan mengatakan, “Terima kasih telah menghubungi saya dan telah berusaha menipu saya. Tapi maaf, usaha Anda sudah sia-sia. Kasihan deh lu……hahahaha….”